Shalat dan Al-Fatiha



Mencari keihklasan dalam melaksanakan shalat episiode 10 ( sepuluh )

Artikel sebelumnya<<<<<<<<<

Setelah selesai membaca do'a Iftitah jangan langsung membaca Fatiha. Kembali tenangkan fikiran, dan sikap kita, pabila ada perasaan ingin terburu, lawanlah perasaan terburu- buru itu, karena itu adalah setan. Setan tidak menginginkan hamba Allah shalat dengan khusu'.
 
Untuk melawan setan yang datangnya dari luar dan yang ada pada diri kita, tidaklah semudah apa yang sering di sampaikan ustad ataupun toko-toko ulama. Semua tergantung pada diri kita sendiri. Sabarkah kita untuk memeranginya?  Karena mengalahkannya hanya dengan kesabaran.

Alfatiha dalam melaksanakan shalat adalah wajib. Tidaklah sah shalat seseorang itu tanpa membaca surah Al-Fatiha. surah 7 ayat yang mempunyai maknah sangat luar biasa, alangkah sayangnya jika kita membacanya tidak mengetahui artinya. Untuk menambah kehkusu'kan dalam melaksanakan shalat ada baiknya  kita mengerti arti dari bacaan yang kita baca. Itu bukan berlaku pada surah Al-fatiha saja, tetapi berlaku untuk semua bacaan- bacaan dalam shalat. Untuk menghafal arti dari bacaan shalat tidak harus di porsir waktu dan pemikiran. Cukup targetkan satu ayat dalam satu hari. Misal alfatiha tujuh ayat, berarti tujuh ayat tersebut  di hafal selama tujuh hari setelah hafal, lanjutkan dengan bacaan- bacaan yang lain. Yang terpenting pertama adalah niat kemudian usaha. Niat dan usaha yang ihklas akan memberi aura positif pada tubuh manusia, sehingga akan membentuk cahaya yang membantu memproses daya ingat manusia untuk mengingat apa yang akan di hafalnya.

gambar:dakwahyu.com


Al-fatihah juga di sebut  samudranya  kitab Al- Qran. Saat ini yang kita bahas adalah membaca Fatiha dalam melaksanakan shalat. 

Sabda Rasulullah Saw


"Tidak ada shalat bagi orang-orang yang tidak membaca Faatihatul kitab." ( HR. Bukhari dan Muslim )

Surah Al-Fatiha


1.Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 2.Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 3.Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 4. Yang menguasai hari pembalasan. 5. Hanya Engkau yang pantas kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. 6. Tunjukanlah kami pada jalan yang lurus. 7. ( yaitu ) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan ( jalan ) mereka yang dimurkai dan bukan ( pula jalan ) mereka yang sesat.


1. Ayat pertama ini menegaskan pentingnya penyebutan atau tepatnya pengakuan manusia atas kuasa Tuhan, atas keesaan-Nya dan atas segala kebesarann-Nya. Manusia diajarkan — dan diharuskan — mengakui ke-Maha Pemurah-an Tuhan dan ke-Maha Penyayang-an-Nya.

2. Setelah manusia mengakui segala kebesaran Tuhan, maka pada ayat kedua menasehatkan manusia supaya melakukan pendekatan pribadi kepada-Nya, yaitu dengan cara memuji-Nya. Ini adalah langkah pertama yang harus dilakukan manusia setelah ia menegaskan pengakuannya.Sesungguhnya kebesaran Tuhan tidaklah berkurang tanpa pujian manusia dan segenap makhluk, dan kebesaran-Nya pun tidak pula bertambah dengan adanya pujian-pujian itu. Namun kita sebagai hambany selalu berupaya memuji-Nya, karena hanya Dialah yang pantas untuk di puji atas kebesaran-Nya.

3. Pengulangan pujian ini untuk sebuah penegasan Ar-Rahman bermakna Tuhan Yang Maha Pemurah atau pengasih. Dia mengasihi semua mahluk yang ada di dunia, baik yang beriman ataupun yang tidak. Sedangkan Ar-Rahim bermakna mengasihi orang-orang yang beriman kelak di akhirat.

4. Pengakuan sekaligus juga pujian, bahwa hanya Tuhanlah yang berkuasa pada hari kiamat. Ini merupakan pujian ketiga berturut-turut, dan begitulah pendidikan dari Tuhan kepada manusia. Dan benar- benar meyakini segenap jiwa dan raga, bahwa hanya Allah yang berkuasa di hari kiamat.

5. Setelah manusia melakukan pujian kepada Tuhan, manusia meneguhkan diri dengan mendeklarasikan sebagai seorang hamba benar-benar konsisten menyembah kepada-Nya. Dan mengukuhkan diri, hanya Allah lah yang layak dan pantas di mintai pertolongan.

6. Manusia tidak bisa berbuat sombong, oleh karenanya ia diajarkan untuk selalu memohon dan meminta, yang dalam hal ini adalah permintaan untuk sebuah kebenaran. Dan hanya kepada Tuhan sajalah manusia itu memohon kebenaran. Makna kebenaran atau jalan yang lurus atau jalan yang benar, jalan yang senantiasa tidak bertentangan dengan syariat Islam.

7. Kenikmata Allah hanyalah di peruntukkan kepada orang-orang yang Dia kehendaki dan itu bukanlah kepada orang-orang yang di murkai dan yang memilih jalan sendiri.

Setelah membaca surah Al-fatiha, kembali tenangkan diri kita, kalau tadi sempat teringat hal-hal lain, coba kembalikan untuk mengingat Allah. Kemudian baru lakukan membaca surat-surat pendek . Sembari membaca surat-surat pendek hati dan fikiran kita tetapkan untuk tetap mengingat Allah. Setelah selesai tenangkan fikiran sejenak, kemudian takbir untuk melakukan ruku'

Artikel selanjutnya>>>>>>>>